Umur 24 memang akan segera menempel di diriku, bulan September nanti. Tapi kenapa itu seakan menjadi sebuah urusan yang besar, terutama masalah jodoh. Agak risi sieh membahas hal ini, dari dikenalkan dengan semua calon yang diajukan oleh semua orang yang peduli. Terima kasih karena kalian semua peduli. Namun, tahukah kalian aku pernah merasakan trauma akan sesuatu. Setiap kali akan dijodohkan aku selalu ingat betapa sakitnya perjodohan itu. Makanya aku selalu ingin menikah dengan seseorang yang sudah aku kenal lama. Bukan seseorang yang baru kenal dan entahlah, rasanya itu lebih aneh.
Rasa sakit yang sama pernah terjadi pada seseorang yang kuanggap dekat denganku, dia orang yang enak diajak ngobrol, bahkan ibu dan adek ku juga menganggap dia baik. Namun, kisah ini punya jalan cerita sendiri, dia memutuskan untuk menjauhi ku dengan cara mempunya hubungan dengan orang lain. Sakitt,,,,aku emang jauh dan hanya Facebook yang menjadi media komunikasi ku dengan teman - teman di Jawa, bahkan dengan dia. Ternyata perasaan ku bertepuk sebelah tangan...(LAGI).
(LAGI)....kejadian yang hampir sama, terjadi lagi dengan seseorang yang kembali dari masa lalu, setelah dulu aku susah payah menjalin hubungan, ternyata dia hadir lagi. Namun, belajar dari pengalaman yang lalu, maka semua sikap perhatian dia untuk keluarga ku tak pernah aku masukkan ke dalam hati. Semua sikap itu selalu aku anggap perhatian biasa. Ternyata benar, perasaan itu tidak benar (LAGI). Tapi kali ini aku hanya menangis sedikit saja, karena memang aku sudah merelakan dia pergi.
Dengan kejadian ini semua, aku semakin belajar untuk biasa saja pada semua perhatian seseorang. Biasa saja itu membuat hati tidak terluka terlalu dalam. Aku hanya berpikir, bahwa seseorang yang akan datang menjemputku adalah seseorang yang benar - benar terbaik bagiku, melebihi semua orang yang kuanggap terbaik. Karena ternyata Alloh punya seseorang yang terbaik yang disimpannya. Optimis hanya sebuah harapan untuk tetap menatap kedepan.
Aku hanya berharap, semoga seseorang itu bisa mengerti aku seperti seseorang sebelumnya yang menurutku baik. Semoga aku pun bisa mengerti dia juga. Namun, aku kini menjadi seseorang yang bermuka keras, entah kenapa tapi aku tidak mau sakit lagi, cukup dengan semua itu, cukup dan cukup sudah.
Sepertinya aku lebih baik belajar lebih mandiri dan menjadi orang yang lebih baik lagi.
For all someone spesial, thanks to be my spesial one at least for once....
No comments:
Post a Comment